ida

kesatria sejati

asslamualaikum sahabat semua kembali lagi nie,postingan diakhir liburan,mo update.tapi kali ini belum ada inspirasi,jadi posting artikel seadanya aja ya...

pas buka flash kakak ada seuntai puisi yang cukup menarik untuk disimak,nanggung ketimbang cuman nangkring di flash ida terbitin aja yah...!bagus banget,setelah ida baca ini,kesimpulan yang didapet yaitu perjuangan seorang kesatria sejati...weitzzzzzzzz tidak sabar apa isinya...
cekidot..,




Ksatria jatuh cinta pada Putri bungsu Kerajaan Bidadari,
Sang Puteri naik ke langit.
Ksatria kebingungan.
Ksatria pintar naik kuda dan bermain pedang,
Tapi tidak tahu caranya terbang.
Ksatria keluar dari kastil untuk belajar terbang pada kupu-kupu.
Tetapi kupu-kupu hanya bisa menempatkanya di pucuk pohon.
Ksatria lalu belajar pada burung gereja.
Burung gereja hanya mampu
Mengajarkanya sampai ke atas menara.


Ksatria kemudian berguru pada burung elang.
Burung elang hanya mampu membawanya ke puncak gunung.
Tak ada unggas bersayap yang mampu terbang lebih tinggi lagi.
Ksatria sedih, tapi tidak putus asa.
Ksatria memohon pada angina.
Angina mengajarkannya berkeliling mengitari bumi,


Lebih tinggi dari gunung dan awan.
Namun sang Puteri masih jauh di awang-awang,
Dan tak ada angin yang mampu menusuk langit.
Ksatria sedih , dan kali ini dia putus asa.
Sampai satu malam ada Bintang Jatuh
Yang berhenti mendengar tangis dukanya.
Ia menawarkan Ksatria untuk melesat secepat cahaya.
Melesat lebih cepat dari kilat dan setinggi sejuta langit dijadikan satu.
Namun kalau Ksatria tak mampu mendarat tepat di Puterinya,


Maka ia akan mati.
Hancur dalam kecepatan yang membahayakan,
Menjadi serbuk yamg membedaki langit, dan tamat.
Ksatria setuju. Ia relakan seluruh kepercayaanya
Pada Bintang Jatuh menjadi sebuah nyawa.
Dan ia relakan nyawa itu bergantung
Hanya pada seroih detik yang mematikan.
Bintang Jatuh menggenggam tangannya.


“inilah perjalanan sebuah Cinta Sejati,” ia berbisik,
‘tutuplah matamu, Ksatria,. Katakanlah untuk berhenti
begitu batinmu merasakan keberadaannya.”


Melesatlah mereka berdua.
Dingin yang tak terhingga serasa merobek hati Ksatria mungil,
Namun hangat jiwanya diterangi rasa cinta.
Dan ia merasakannya… “ Berhenti!”
Bintang Jatuh melongok kebawah,
Dan ia pun melihat sesosok puteri cantik yang kesepian.
Bersinar bagai Orion di tengah kelamnya galaksi.


Ia pun jatuh hati.
Dilepaskannya genggaman itu.
Sewujud nyawa yang terbentuk atas cinta dan percaya.
Ksatria melesat menuju kehanvuran
Sementara sang Bintang mendarat turun untuk mendapatkan sang Puteri.
Ksatria yang malang.
Sebagai balasannya, dilangit kutub dilukiskan Aurora.
Untuk mengenang kehalusan dan ketulusan hati Ksatria.

***

Puteri,
Kembalilah ke puri ini,
Satu semesta mungil yang mampu melumat bumi
Kalau aku mau membentangkannya.
Inilah nirwana yang mampu menampung perasaan kita.
Bumi punya langit sebagai jendela terhadap galaksi maha luas yang berjaya dalam misteri.
Jendelaku adalah carik-carik kertas-
Berisi daftar pertanyaan tentang dunia
Yang tak habis dimengerti.
Bumi menggetarkan nyali dengan palung-palung dalam.
Aku cuma punya beberapa piringan hitam-
Laut pribadiku yang didalamnya selalu ada kamu, dan kamu lagi.
Samudera kata terbelit musik dan diudarai kenangan.
Didalamnya aku bisa berenang selama ikan.
Bumi adalah sebuah kumparan besar yamg melingkarkan semua makhluk dalam kefanaanya. Melingkarkan engkau dan aku.

***

Puteri,
Aku kangen kamu.
Kangen ketidakpercayaanmu.
Pesimismu.
Namun engkau pilihanku.

***

aku mencintaimu sepenuh hati, Puteri.
Tak peduli lagi tepat atu tidak.
Tak peduli kau menyadari aku hilang atau tampak.
Tak peduli kau bahagia dengan diriku atau cuma dengan sel otak.
***
Dulu aku adalah pujangga.
Seorang arwah pujangga tersasar masuk dalam tubuh mungilku.
Dulu aku berkata-kata bak mutiara nan wangi.
Dan mutiara sangatlah aneh ditengah batu kali.
Pikiranku adalah seribu persimpangan dalam sekotak korek api.
Karena itulah aku anomali.

***

Sudah kumenangkan taruhan ini, bahkan dengan sangat adil.
Jauh sebelum kau menyerahkan kertas dan pensil.
Karena rinduku menetas, sebanyak grimis.
Tidak butuh kertas, atau corengan garis.
Genggamlah jantungku dan hitung denyutanya…
Sebanyak itulah aku merindukanmu, Puteri.Karena ini ia dinamakan si jantung hati.
Memompa lembut seperti angina memijat langit.
Berdenyut lincah seperti buih yang terus berkelit.
Dan darah cinta adalah udara,
Dengan roh rindu yang menumpang lewat di dada.

***

Ayo Puteri, cambuklah kuda waktuku,
Agar ia sedikit berlari, dan berarti.

***

Aku merasa begitu kecil ditengah keluasanku.
Rintikmu raksasa dalam mungil tetesmu.
Engkau menyelimuti dengan dingin.
Dan semakin kau merapat, semakin membara alam ini.
Jutaan engkau kini turun membanjiriku.
Tak akan pernah aku meluap, Piteri.
Kugali tanahku lebih dalam dan kubuka semua celah untuk menyerapmu.

***

Puteri, aku ingin sekali tuli
Sekawanan samurai terbuat dari huruf datang menyerang.
Mencacah harga diriku seperti daging cincang.
Mereka menghinaku, karena aku Cuma bisa diam.
Mereka menyumpahiku, karena aku rela diabaikan.

***

Tak akan kuhadirkan kakiku kesana,
Tak kan pula kuhadapkan mataku untuk melihatnya.
Aku akan dirasuki imaji mengenai dirimu denganya.
Bagaimana kalian makan bersama, atau bercinta diatas meja.
Dan betapa seharusnya engkau tidak disana.
Maaf, saya sedang tidak berselera untuk disiksa.
Rasa memiliki itu hidup seperti sel,
Semula satu kemudian terpecah menjadi seribu satu.
Dan aku menyimpan sel-sel yang sangat hebat, puteri.
Ia akan terpecah diluar kendali cinta itu sendiri.
Sel ini terus bertambah dan merambah.
Mereka hidup melingkari kita, semenjak kita saling mencinta.
Suka tak suka.
***

Ajarkan aku menjadi naïf.
Senaif dirimu yang masih bisa tertawa.
Senaif kebahagiaan di alam kita berdua.
Karena setiap detik kala kenyataan mulai bersinggungan’
Aku rasakan sakit yang nyaris tak tertahankan.
Atau ajarkan aku menjadi penipu,
Apabila ternyata kau merasakan sakit itu dalam tawamu.
Aku letih, Puteri

***

Aku bosan diam.
Aku ingin berteriak lantang.
Menembus segenap celah dan lubang.
Merasu ke ujung gendang telinga semua orang…
Aku mencintainya.
Pada saat seperti ini izinkanlah aku mempertanyakan,
Dimana engkau letakkan aku ?
Adakah aku seberharga cincin yang melingkar manis dijarimu,
Ataukah aku senyaman sepatu tuamu yang tak terasa lagi bila dipakai ?
Akankah kau pertahankan aku selayaknya nyawamu sendiri,
Ataukah namaku hanya akan melintas sekilas di detik-detik terakhirmu ?untuk kemudian menyublim seperti arwah tersedot surga.
Mengertikah kini, Puteri ?
Karena itulah aku ingin hidup nyata.


Layakkah cinta hidup semu laksana hantu ?
Yang melayang bagai bulu panah.
Aku ingin menjejak tanah.
Mengambang membuatku lelah.
Aku ingin memiliki.
Aku ingin diakui.

***

Pernahkah kamu merasa waktu mendadak lenyap, tapi bumi tetap berputar ?
Pernahkah kamu merasa tidak di mana-mana, sekaligus berada di mana-mana ?
Dan pernahkah kamu tidak berkata-kata, namun kamu berbicara ?
Ada saat aku berusaha membunuh jiwaku…
Ada saat hatiku sekarat…
Dan pada saat aku melesat…
Aku mencintai dirimu, lebih dari yang kau tahu.

***

Puteri, lihatlah aku.
Aku melayang tinggi.
Menembus semua akal.
Cinta tak pernah jadi hantu.
Ia menjejak nyata di seluruh jagad raya.
Dan itulah aku.

“ Kalau kamu benar-benar mencintainya, aku rela kamu pergi.
Aku tidak akan mempersulit keadaanmu, keadaan kita.
Kita sama-sama sudah terlalu sakit.
Aku mencintaimu. Terlalu mencintaimu.
Kamu tidak akan pernah tahu betapa besar perasaan ini….
Perasaan ini, cukup besar untukku kuat berjalan sendirian tanpa harus kamu ada. Tidak akan mudah, tapi aku tidak mau membuatmu merasa tersiksa lebih lama lagi.
Lama aku berusaha menyangkal kenyataan ini, tapi sekarang tidak lagi.
Kamu memang pantas mendapatkan yang lebih.
Maafkan aku tidak pernah menjadi sosok yang kamu inginkan.
Tidak menjadikan hal ini seperti apa yang kamu impikan.
Tapi aku teramat mencintaimu,milikku….atau bukan.
Kamu tetap akan kupuja. Dan aku yakin tidakada yang melebihi perasaan ini.
Andaikan saja kamu tahu.”



0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...